Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan, kebangsaan dan kemasyarakatan.
Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), Fakultas Dakwah (Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam), dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam.
Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah pernah didirikan, tetapi kemudian diubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sesuai dengan tuntutan dan perkembangan yang ada. Program Diploma PGSD/PGMI juga pernah ada tetapi kemudian ditingkatkan statusnya dari Program Diploma menjadi Program Strata Satu.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara ciptaan Tuhan lainnya. Dengan
kekuatan dan keterbatasannya, manusia dapat berbuat apa saja atas dirinya
sendiri maupun lingkungannya, sehingga mereka dapat melakukan berbagai
kegiatan-kegiatan untuk mencapai kemakmuran dalam hidupnya.Dan kemakmuran itu
sendiri erat kaitannya dengan keadaan dimana segala kebutuhan manusia itu telah
tercukupi dan kecukupan dalam dirinya telah tercapai berarti dapat diartikan
bahwa kemakmuran itu erat kaitannya dengan makna cukup dan sebuah kecukupan itu
meliputi aspek material dan spritual artinya seorang manusia dikatakan telah
makmur apabila ia telah merasa cukup baik spritual maupun material dengan jalan
memenuhi segenap kebutuhanya.
Sejak manusia muncul dimuka bumi
ini,keinginan untuk memenuhi segenap kebutuhannya telah tampak jelas mereka
dengan cepat mengalami berbagai perubahan dan pengembangan dalam hidupnya.Perhatikanlah
kehidupan manusia begitu banyak sekali penemuan yang berhasil dicapai manusia
baik di bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi semua itu untuk membuat
hidupnya menjadi lebih makmur.Pada intinya manusia tidak pernah puas ia akan
melakukan berbagai upaya agar hidupnya dapat lebih makmur dan makmur lagi
Maka itulah supaya dapat mengetahui dan
memahami lebih jelas lagi tentang berbagai kebutuhan dan pengembangan dimensi
kepribadian manusia. Maka makalah ini membahas tentang pengertian kebutuhan manusia dan
mengklasifikasikannya kedalam berbagai ragam kebutuhan serta berbagai pengembangan dimensi
kepribadian manusia.
B.Rumusan Masalah
a)
Apa yang dimaksud dengan kebutuhan
manusia ?
b)
Apa sajakah
macam-macam dimensi kebutuhan manusia itu?
c)
Bagaimana
pengembangan dimensi kepribadian manusia?
C.Tujuan
a)
Untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah
Dasar-Dasar Pendidikan
b)
Agar dapat lebih
memahami maksud dari Kebutuhan dan
Pengembangan Dimensi Kepribadian Manusia dan hal-hal yang terkandung didalamnya.
D. Metode Pemecahan Masalah
Saya
menggunakan metode studi perpustakaaan yaitu menggunakan buku-buku sumber yang saya miliki kemudian setelah itu saya ambil kesimpulan dan selain
itu pula saya juga mencari informasi dari internet
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kebutuhan Manusia
Ketika setiap
manusia
menyadari dirinya
secara total, maka mereka akan
mengetahui bahwa diri mereka terdiri
dari aspek jasmani dan ruhani. Kesadaran diri tersebut dapat dirasakan dan gejalanya
dapat dimanifestasikan dalam bentuk sikap dan perbuatan
fisik walaupun kesadaran itu bersifat psikis. Hal demikian menunjukkan bahwa manusia tersebut masih eksis dan masih
hidup. Kehidupan setiap manusia tidak serta merta eksis
tanpa fungsi yang berguna dari berbagai organ-organ tubuh yang terdapat dalam dirinya.
Disfungsi dari semua atau sebagian organ tubuh mereka akan menekan
kehidupan mereka
sampai mereka tidak
hidup lagi.Maka dapat
disimpulkan bahwa kebutuhan manusia adalah segala sesuatu yang naluriah dan
sangat diperlukan oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya. Dan berikut adalah macam-macam kebutuhan Manusia :
a) Kebutuhan
Hidup yang Bersifat Fisik
Setiap manusia memerlukan
berbagai macam ragam kebutuhan untuk hidup. Untuk mempertahankan
kehidupan mereka diperlukan pemenuhan beberapa kebutuhan hidup yang diantaranya:
1) Kebutuhan
primer
Kebutuhan Primer adalah
kebutuhan yang paling utama untuk dipenuhi.Bilamana
kebutuhan ini tidak terpenuhi,maka keberlangsungan kehidupan akan terganggu. Dan yang termasuk kedalam Kebutuhan primer adalah kebutuhan akan makanan,minuman,pakaian,dan
perumahan serta oksigen dan asupan lain sebagainya
harus selalu tersedia.Karena akan
sulit bagi manusia untuk melaksanakan jati dirinya sebelum kebutuhan primernya terpenuhi.Itulah
mengapa kebutuhan primer sering disebut sebagai kebutuhan yang alamiah.
2)
Kebutuhan Sekunder
Manusia tidak hanya
hidup dengan memenuhi kebutuhan primer saja tetapi manusia sebagai makhluk
berbudaya dan bermasyarakat juga tidak terlepas dari kebutuhan yang lebih
luas,lebih banyak dan lebih sempurna.
Seperti Manusia
dapat melakukan aktivitas secara maksimal
dan optimal memberikan kontribusi bagi pemenuhan kehidupannya baik secara pisik maupun secara psikis.
Sebagaimana disebutkan bahwa
manusia minimal memerlukan makan dan minum.
Tidak setiap makanan dan minuman tersedia secara
lengkap di hadapannya. Ada bahan makanan yang harus dicari dan bahan makanan
yang harus diolah. Untuk itu,manusia memerlukan keterampilan mencari dan
mengolah makanan dan minuman.
Ada pula lingkungan yang sangat mendukung terhadap kehidupan manusia tetapi ada juga lingkungan yang
kurang mendukung kehidupannya, seperti
bencana alam. Terhadap masalah yang terakhir umpamanya, manusia harus menghindar dan melakukan perbaikan
sedemikian rupa. Hal demikian memerlukan
kemampuan manusia untuk merekonstruksi lingkungannya agar tetap aman dan nyaman dan tetap
memberikan dukungan terhadap kehidupannya.
Secara spesifik ada
kebutuhan khusus yang berbeda antara laki-laki dan perempuan terkait dengan
perbedaan biologik yang bersifat kodrati yaitu perbedaan organ-organ reproduksi
yang harus menjadi perhatian utama.Misalnya laki-laki membuahi dan perempuan
mengalami haid, hamil,melahirkan anak, dan menyusui. Tentu
saja laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan
yang berbeda yang disebut dengan kebutuhan gender praktis.
3)
Kebutuhan Tersier
Kebutuhan ini
timbul setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi contoh kebutuhan tersier
yang tertuju kepada barang-barang mewah seperti mobil sedan yang mewah,liburan
ke luar negeri dll .Dan kebutuhan tersier ini sendiri bertujuan
untuk meningkatkan prestise manusia dalam masyarakat.Dan batas antara
kebutuhan sekunder dan tersier untuk setiap orang berbeda-beda.Perbedaan ini
ditentukan kedudukan dan status ekonomi orang dalam masyarakat.
b)
Kebutuhan Hidup
yang Bersifat Psikis
Setiap
manusia barangkali pernah mengalami, atau paling tidak pernah menyaksikan orang yang murung ketika ia menghadapi
malapetaka yang mengancam jiwanya,
atau paling tidak orang yang gagal dalam suatu usaha, seperti tidak lulus dalam suatu ujian sekolah, atau
sebaliknya. Setiap manusia barangkali pernah mengalami
atau menyaksikan orang yang bersorak sorai sebagai tanda kegembiraannya ketika seseorang sukses
dalam suatu usaha, misalnya lulus dalam suatu ujian
sekolah. Orang demikian menunjukkan
kebebasan dirinya dari
beban yang menekan. Beban yang menekan dirinya akan menyebabkan ia menjadi stres atau depresi. Hal ini
tidak ubahnya seperti orang yang kekurangan
nutrisi sebagai kebutuhan primernya, yaitu mengalami sakit. Namun penyakit yang diderita tidak
bersifat fisik, melainkan bersifat psikis.Setiap jenis penyakit merupakan
gangguan terhadap eksistensi manusia sehinnga perlu diberantas.
Aspek psikis
memerlukan perhatian, pendidikan, dan pembinaan sebagaimana mestinya sesuai dengan sifat
dan karakteristiknya. Seseorang yang
melupakan pendidikan dan pembinaannya, maka perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya dapat
dipastikan menyalahi hakikat dan kodrat hidupnya.
Aspek ini berasal dari alam spiritual, bahkan cenderung kembali ke asalnya bila ia bersih dan suci.
Penyuciannya dapat berupa konsentrasi
dalam dzikir, shalat dan ibadah lainnya.
Aspek psikis mempunyai kemampuan yang diperoleh dari
‘alam mitsal (alam bentuk)
dan dari dunia materi. Ia dapat memperoleh pengetahuan
dan pengalaman melalui cita rasa hati), di samping
dari penalaran dan pengalaman empirik (penginderaan). Sebagian pengetahuan dan pengalamannya diperoleh
dengan belajar atau usaha dan dengan
jalan ilham setelah terjadinya
mukasyafah (keterbukaan pintu ghaib).Akibatnya ia mampu mengenal sesuatu dari
dua alam, ia pun dapat mengenali dirinya
dan di luar dirinya. Oleh karenanya, ia
tahu (sadar) bahwa ia tahu. Ia siap menerima ilham, isyraq (pencerahan) atau ilmu ladunni (ilmu yang dicampakkan oleh Tuhan ke dalam hati
seseorang tanpa belajar), jika tercipta kejernihan
melalui renungan batin, perjuangan jiwa dan riyadlah (latihan spiritual). Ia merupakan alat untuk
mencapai pengetahuan ilhami dan mengenal
Tuhan (ma’rifah). Ia pula yang mendekat
pada-Nya. Mengenal aspek
ini dengan segala potensinya menjadi penting sebagai dasar pembinaan dan pengembangannya, dan seseorang yang
tidak mengenalnya berarti ia tidak akan mampu mengenal sesuatu apa
pun yang bersifat spiritual.
Secara psikis seseorang memenuhi pembinaan guna
pengembangan aspek psikisnya.
Seperti pengembanagn berpikir, mengingat, berfantasi, menanggap, mengamati, memperhatikan dan lain
sebagainya. Kebutuhan itu seharusnya dapat
dipenuhi sedemikian rupa agar ia dapat menikmati hidup dan dalam rangka menciptakan kondisi manusia yang
sehat jasmani dan ruhani. Kebutuhan psikis dapat disebutkan sebagai berikut:
a.
Rasa Aman
Seseorang,
baik laki-laki maupun perempuan, memerlukan, atau yang memiliki perbedaan sosial, sama-sama
memerlukan rasa aman dari berbagai ancaman
yang bersifat menekan. Seseorang yang merasa tidak aman dari ancaman sesuatu menyebabkan ia gelisah, susah bahkan sampai
putus asa.Perasaan aman bisa timbul karena orang yang mempunyai pertahanan diri yang tangguh dan dapat mengatasi segala
rintangan yang bersifat menekan
dirinya. Disamping itu, adanya perlindungan dari pihak lain yang
bertanggungjawab atau dari pihak yang mempunyai otoritas untuk itu, seperti negara dengan segenap aparat
keamanannya, atau orang tua bagi anak kecil dapat
menghidarkan seseorang dari kecemasan dan rasa tidak aman.
b.
Penghargaan
Seseorang
dengan ragam perbedan sosial maupun jenis kelamin sama-sama memerlukan penghargaan dari pihak lain,
terutama terhadap prestasi-prestasi yang
pernah dicapainya. Apresiasi dari orang lain menimbulkan dan meningkatkan rasa percaya diri pada
seseorang untuk berbuat lagi, baik perbuatan
yang serupa atau perbuatan lain, karena ia mendapatkan kebebasan berkreasi dan optimisme yang tinggi.Orang yang tidak
pernah mendapat penghargaan dari pihak lain
bisa jadi menekan dirinya,
pesimis dan bahkan putus
asa. Namun demikian, orang yang mendapatkan apresiasi yang terlalu tinggi dari pihak lain
boleh jadi ia bisa congkak atau sombong, karena
terlalu percaya diri.
c.
Aktualisasi Diri
Seseorang
dengan ragam perbedan sosial maupun jenis kelamin sama-sama mempunyai kemauan, keinginan, dan
cita-cita. Semua orang berharap agar kemauan,
keinginan dan cita-citanya dapat dicapai. Hal demikian adalah wajar pada setiap orang apabila keinginanannya
dapat dicapai secara baik akan menimbulkan
rasa kepuasan dan percaya diri. Untuk mencapai keinginannnya itu seseorang selalu melakukan kegiatan
yang menunjang pencapai keinginan itu.
Orang yang dapat melakukan demikian adalah orang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh
sehingga kebutuhannya d a dapat dipenuhi.
d.
Kebutuhan
Terhadap Agama
Secara
naluriah, sebagaimana disebutkan di atas, manusia dilahirkan untuk mengakui dzat yang dianggap mengatasi
dirinya (The Wholy Others). Manusia hidup
dan dilimpahi dengan berbagai
kesuksesan. Tetapi di pihak lain ada lagi yang
mengalami banyak kendala dan hambatan dalam hidupnya. Akhirnya, akan sadar bahwa sukses yang diperoleh
maupun mushibah yang menimpa dirinya
bukan semata atas kehendak dan di luar kekuasaan dirinya. Semua program yang ia jalankan tidak selamanya
sesuai dengan rencananya. Ketika seseorang
melihat penyimpangan dari pola-pola perencanaan yang ia programkan, akan menyadarkan diri atas
kekuasaan yang berada di luar dirinya.
Kesadaran semacam ini yang akan menuntun seseorang untuk mempercayai dzat yang maha kuasa. Hal
demikian yang menjadi dasar keimanan
seseorang untuk memeluk atau mempercayai suatu agama. Ketik seseorang telah
mempercayai suatu agama, maka ia
mendapatkan kepuasaan
terhadap doktrin-doktrin agamanya ketika ia merasakan perlindungan agama terhadap dirinya,
baik untuk kehidupan di dunia ini apalagi kehidupan
di akhirat nanti. Sebagaimana Anda rasakan ketika selesai melaksanakan kewajiban agama, apabila
memang dihayati secara benar, Anda
merasakan suatu pengalaman keagamaan. Pengalaman agama yang dicapai dalam shalat dan do’a misalnya,
telah membimbing seseorang untuk merasakan
ketentraman batin bahwa dirinya berada dalam naungan kekuasaan-Nya. Hal semacam ini yang
menimbulkan kerinduan yang menyebabkan
seseorang untuk selalu melaksanakan ajaran agamanya secara kontinyu. Dengan demikian, semua
manusia dengan berbagai strata sosial
dan perbedaan sosial maupun perbedaan jenis kelamin sama-sama membutuhkan kehadiran agama untuk
membimbing kehidupan mereka. Allah pun
tidak memandang manusia dari aspek perbedaan tersebut, tetapi memandang dari perbedaan ketaqwaannya.
B. Pengembangan Kepribadian Manusia
Manusia dengan ragam perbedan
sosial maupun jenis kelamin tidak sematamata hidup, tetapi juga berpenghidupan.
Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas
hidup dan penghidupannya manusia selalu berusaha dan berupaya untuk mencari jalan agar selalu
berkembang. Kehidupan duniawi tempat seseorang
memulai dan melaksanakan kariernya memberikan kebebasan dan hak kepadanya untuk mewujudkan
keinginannya dan memperoleh citacitanya, dengan mengembangkan hidup, kehidupan,
dan semua peradabannya, demi kelangsungan hidupnya dan kariernya.
Aspek fisik mempunyai peran yang
sangat penting dalam mengantarkan seseorang
mencapai tujuan yang diinginkannya. Dalam hubungannya dengan alam yang memang dipersiapkan untuk
kehidupannya di dunia ini, seseorang tidak
harus bersifat fatalis dalam
menghadapinya. Mengembangkan aspek fisik dan material sudah tersurat maupun
tersirat dalam pandangan hidup manusia,
dan sebagai pemenuhan kewajiban legal formal dan
kewajiban moral bagi
seseorang yang meniti karier kehidupanya di dunia ini. Seseorang perlu belajar dari pengalamannya sendiri
dan pengalaman orang lain, dan mensinergikan
berbagai pengalaman itu untuk mendapatkan legetimasinya dan membuat formulasinya yang tepat,
efektif, dan efisien untuk mencapai kehidupan
yang sempurna. Tanpa akselerasi kehidupan duniawi, maka kehidupannya akan stagnan, dilampaui
oleh pihak lain, karena karena ia tidak mempergunakan
pikiran genius dan kreatifnya untuk mengembangkannya supaya tidak tertinggal. Dalam
ketertinggalan itu boleh jadi ia menjadi sub ordinasi pihak lain, sehingga
ruang geraknya menjadi terbatas. Hal ini sangat berbahaya
bagi dirinya dan generasi penerusnya.
Pada umumnya perempuan dengan
strata sosial lebih rendah dan anak-anak seringkali kurang mendapatkan perhatian sehingga mengalami
ketertinggalan. Karena itu dalam pengembangan
kepribadian perlu memperhatikan kelompok-kelompok marjinal
dan subordinal agar sama-sama mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari aktivitasnya.
Di
saat ini sangat dirasakan pentingnya pendidikan dan alih informasi dan teknologi
dari salah satu pihak kepada pihak lain, atau sifat kerjasama yang menjadi ide
sentral perubahan suatu masyarakat yang berkembang ke arah saling
ketergantungan, karena diyakini tidak satu pun masyarakat atau bangsa dapat
hidup mandiri memenuhi segala hajat kehidupannya tanpa bantuan pihak lain.
Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri sudah menjadi keharusan
supaya suatu bangsa tidak dikuasi oleh pihak lain karena sebab
ketergantungannya. Suatu bangsa hanya menjadi kuat bilamana ia mempunyai
ketangguhan dan ketahanan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga ia dapat
berdakwah, menyebarkan informasi dan pendidikan kepada orang lain sesuai dengan
pandangan hidup yang diyakini. Fisik
yang lemah, pikiran tidak
kreatif dapat disebut sebagai pangkal kelemahan untuk membangun dunia yang berperadaban.
Seseorang tidaklah harus menyerah secara
total terhadap keadaannya dan menerima apa adanya tanpa melaksanakan usaha yang mungkin bisa ia
lakukan dalam pandangan pikiran yang
sehat.
Kehidupan
masa kini umpamanya, ditandai dengan semakin canggihnya teknologi dan semakin
lengkapnya pemenuhan kebutuhan material, namun belum cukup memberikan makna
terhadap kebutuhan ruhani sepanjang seseorang belum menemukan makna kehidupan
dari berbagai dimensinya dalam dirinya sendiri secara ruhani. Seseorang
perlu menyelami kedalaman aspek
ruhaninya supaya ia tidak mengabaikan kebutuhannya yang paling dasar dalam mendapatkan ketentraman
batin dan keseimbangan dalam dirinya.
Pikiran seseorang pada suatu ketika memerlukan pembebasan dari kesadaran yang terbatas menuju pada
kesadaran yang tidak terbatas. Bilamana aktualisasi dan kebutuhan aspek ruhaninya tidak terpenuhi
sebagai kebutuhan dasar, maka sulit diharapkan terwujudnya ketentraman dan kedamaian
dalam hidup, yang berarti pula tidak ada keseimbangan antara kondisi fisik dan
psikis. Berat sebelah pengembangan antara dua aspek ini menyebabkan disharmoni
antara berbagai aspek kepribadiannya yang mengakibatkan terjadinya dehumanisasi,
dan banyaknya penyimpangan dari kehidupan yang normal.penyembuhannya tidak
dapat dilakukan melalui terapi-terapi
aspek fisik semata tetapi
memerlukan keterlibatan aspek psikis.
Menemukan
akses yang bisa dipergunakan untuk menemukan diri sendiri secara ruhani dan
mencari makna kehidupannya bukan sekedar kewajaran, tetapi secara moral sudah
menjadi keharusan, agar seseorang tidak terperangkap ke dalam kehidupan yang
profan.
Baik fisik maupun
psikis membutuhkan pengembangan diri yang berupa pembinaan
dan pendidikan agar dapat berkembang optimal dan maksimal sesuai dengan kapasitasnya. Fisik maupun
psikis hanya merupakan potensi laten
yang mungkin hanya disempurnakan lebih lanjut melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kebutuhan
yang tidak kalah penting dengan kebutuhan
lain, seperti halnya kita membaca sebuah modul dalam rangka pengembangan
diri. Kemudian Coba kita renungkan perubahan apa yang terjadi
pada diri Anda setelah membaca modul tersebut..
a.
Adakah wawasan atau pengetahuan Anda bertambah?
b.
Adakah perubahan persepsi Anda tentang sesuatu?
c.
Adakah perubahan sikap Anda dalam menghadapi sesuatu?
Aspek fisik mendapatkan pendidikan sedemikian rupa
agar dapat berkembang dari
lemah menjadi kuat. Pendidikan terhadap aspek
ini melalui latihan yang ringan
sampai yang berat tetapi kontinu, sehingga ia menjadi kuat dan sehat. Kekuatan dan kesehatan menjadi modal
untuk menggapai kebutuhan yang lain sebagaimana
disebut di atas. Mengasup nutrisi dan memperolehnya sebagaimana disebutkan di atas,
memerlukan suatu pengetahuan yang hanya bisa
didapat melalui pendidikan. Orang yang tidak terdidik pemenuhan kebutuhannya sangat bergantung kepada
pihak lain, seperti anak bayi yang masih
bergantung kepada orang tuanya. Namun semakin ia terdidik, maka ia semakin mahir untuk memenuhi
kebutuhannya.
Manusia tidak
semata terdiri dari aspek fisik, tetapi ia juga mempunyai aspek psikis. Aspek psikis memegang peran
penting dalam kehidupan manusia, sehingga
untuk mengetahui wujud manusia dalam hubungannya dengan pendidikan tidak semata dilihat dari
aspek materialnya (fisik), tetapi juga dari aspek
spiritualnya (psikis). Aktivitasnya sebagai instrumen batin, dengan segala unsur yang melingkupinya,
mempunyai pengaruh dan memegang kendali
terhadap semua aspek jasmaniahnya
(fisik). Sebagaimana disebutkan di
atas, bahwa aspek ruhani yang paling tinggi mempunyai akses ke alam ghaib, maka dari sana ia mendapatkan
informasi ghaybiyat yang biasanya
ketika seseorang lebih banyak memperhatikan aspek lainnya terbengkalai .Betapa
keringnya kehidupan jika tidak disertai
dengan nuansa ruhani.Hilangnya cita rasa tu berarti kenyapnya kebahagiaan,barangkali merusakkan kecerdasan
intuitif dan lebih-lebih lagi sanagat berbahaya dalam bagi pembinaan moralitas karena itu
melemahkan emosi dan cita rasa batin
.oleh karena itu pembangunan pendidikan aspek ruhani tidak harus dikesam,pingkan lebih-lebih hakikat seseorang pada dasarnya terletak pada aspek ruhaninya yang bersifat permanen
,immortal,dan eksistensinya sebagi
bagian dari perjalanannya yang teramat panjang.
Seseorang tidak
harus hanya bergelut dengan kehidupan
empirik dengan menekuni dunia luarnya
yang senantiasa berubah tetapi menguak lebih dalam hakikat keberadaannya hanya dengan logika linear dan dianggap
sebagai peristiwa yang berlaku secara
mekanik tetapi mungkin saja terjadi peristiwa yang tidak pernah disangka menurut penalaran logis.
Muatan ekuilibrium
yang terdapat dalam seluruh pengalaman hidup seseorang, baik laki-laki maupun
perempuan dan perbedaan sosial mencoba memberikan nuansa pembinaan yang tidak
hanya terbatas pada aspek jasmaniahnya saja– adalah prinsip-prinsip pendidikan.
Strategi pendidikan seharusnya selalu mempertimbangkan keseimbangan antara
berbagai aspek kepribadian, yaitu pendidikan yang berusaha dan mengupayakan perkembangan
secara menyeluruh tetapi seimbang. Pendidikan yang hanya mengarah pada perkembangan suatu aspek
saja, tidak lain identik dengan pengajaran.
Sebagian orang memang lebih cenderung dan menginginkan pendidikannya tersegmentasi pada aspek
material, tetapi tidak perlu menghalangi
kesempatan yang mungkin diperoleh seseorang untuk mendapatkan
pendidikan secara spiritual, bahkan diperlukan daya upaya untuk menjadikan pendidikan spiritual sebagai
gerakan yang populis.
Usaha seseorang
meningkatkan martabat yang lebih tinggi secara ruhani, tetapi tidak memutuskan
hubungannya secara mutlak dengan dunia luarnya, ia akan memperoleh pengetahuan
yang subjektif dari pengalaman ruhaninya dan pengetahuan yang objektif dari
pengalaman empiriknya, sehingga ia dapat mengembangkan penguasaan dunia pada
suatu sisi dan mentransendensikannya pada sisi yang lain. Pandangan dan
penglihatan seseorang hendaknya diarahkan untuk mencapai makna dan fungsi menangkap
sesuatu di alam material, di samping yang bersifat immaterial melalui berbagai
tanda yang memenuhi alam raya, karena kemampuan penglihatannya dalam keadaan
suci dan primordialnya dapat langsung menangkap visi Ilahi. Oleh
karena itu, seseorang yang baik adalah aspek fisik dan psikisnya sama-sama peka.
Arah pendidikan seharusnya selalu mempertimbangkan
berbagai aspek kepribadian.
Dalam kondisi seperti ini pendidikan yang bersifat eksternal dan aksidental (fisik) tidak harus merupakan
terminal akhir dalam suatu proses perjalanan
karier pendidikan, melainkan perlu dikaitkan dengan pendidikan yang bersifat ruhani. Dalam pendidikan
yang hanya berorientasi pada sisi eksternal
dan formal, ketajaman visi ruhani kurang mendapatkan tempat yang wajar dan memadai, karena seseorang
hanya dipandang dari segi fisik semata.
Dari pendidikan seperti itu tidak mungkin dapat melahirkan nilai etika, sebagai landasan sikap dan perbuatan,
dan estetika, sebagai landasan perasaan,
dan nilai-nilai lainnya yang terpancar dari dimensi penghayatannya.
Bila esensi seseorang bersifat ruhani, maka
pendidikan harus dihubungkan dengan
hakikatnya itu. Oleh karena itu, seseorang bukan meja lilin yang dapat dibentuk dengan berbagai pengaruh dan
stimulus, atau seseorang bukanlah semata
makhluk pasif yang menerima bentukan dari lingkungan sebagaimana diperkirakan oleh teori tabularasa,
tetapi ia mempunyai kreativitas yang memungkinkan
mengubah lingkungan sesuai dengan kehendaknya, dan bahkan mencapai sesuatu yang berada di
luar kehendaknya. Namun dapat diakui
bahwa pembentukan suatu kebiasaan dengan suatu kegiatan mempunyai efek kumulatif, sehingga dapat
mendorong terjadinya peningkatan kualitas
karakter seseorang yang pengaruhnya lambat laun menjadi semakin kuat dan menyulitkan seseorang untuk
melepaskan diri darinya.
Dengan pendidikan
yang bisa diperoleh dari berbagai aspek kepribadian, memungkinkan seseorang
menerima berbagai akibat pendidikan, sehingga kondisi kemanusiannya dapat
menerima perubahan dan perkembang perkembangan sesuai dengan pengaruh yang
diterimanya baik lahir maupun batin. Dengan berbagai arah, macam, dan bentuk pendidikan
yang diterimanya menyebabkan kualitas
kepribadiannya diidentifikasikan dan berada.
Bila seseorang
dengan ragam perbedaan sosial dan perbedaan gender akibat konstruksi sosial
dapat menerima pendidikan yang ditujukan kepada arah jasmani dan
ruhaninya, maka semua aspeknya dapat
berkembang sesuai dengan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Pendidikan
semacam ini yang memungkinkan
terciptanya kepribadian yang seimbang, dan semua pengalaman
dan pengetahuannya diperoleh dari berbagai aspek kepribadiannya.
Dengan demikian, bukan suatu ilusi bilamana hasil yang mungkin dicapai paling tidak berupa
keseimbangan kepribadian yang tidak semata
didominasi oleh salah satu aspek, tetapi merupakan sinergi dari berbagai aspek kepribadian. Betapa
sangat dipentingkan dalam tujuan pendidikan
adalah seseorang yang tidak hanya trampil dan pintar, tetapi juga bersikap mulia sebagai hasil
keseimbangan antara aspek fisik, psikisnya. Seseorang yang mampu berpikir tentang sesuatu dan berbuat sesuatu haruslah
mempergunakannya untuk kebaikan dirinya, masyarakatnya, dan bangsanya menuju
kehidupan yang lebih mulia dan bermartaba at.
Hasil lebih jauh adalah kepuasannya dapat mengaktualisasikan dirinya
secara penuh sehingga berujung pada
kenikmatan dan kebahagiaan. Ingat, setiap yang nikmat itu dicintai karena adanya
kecenderungan seseorang untuk mendapatkannya.
C.Dimensi-Dimensi Manusia
Seseorang
(individu manusia) yang sejak kelahirannya (dari penciptaannya) dibekali dengan
hakikat manusia untuk pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia
dilengkapi dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri individu
itu. Dimensi-dimensi itu adalah sebagai
berikut:
1.
Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk
keindividualan dimaksudkan sebagai orang yang utuh, yang terdiri dari kesatuan
fisik dan psikis. Kandungan dimensi keindividualan adalah potensi dan
perbedaan. Di sini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki
potensi, baik potensi fisik maupun mental-psikologis, seperti kemampuan
intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Potensi ini dapat
berbeda-beda antar individu. Ada individu yang berpotensi sangat tinggi,
tinggi, sedang, kurang dan kurang sekali.
Keberadaan manusia sebagai
individual bersifat unik artinya berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Setiap manusia sama mempunyai mata, telinga, kaki dan anggota tubuh lainnya,
namun tidak ada yang sama persis bentuknya, karena setiap orang kelak
akan diminta pertangungjawaban atas sikap perilakunya. Kesadaran manusia
akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia, ini mencakup
pengertian yang sangat luas, antaranya kesadaran akan diri antara
realitas, self respect, self narcisme, egoisme dll. Manusia sebagai individu
memiliki hak sebagai kodrat alami atau anugerah Tuhan kepadanya. Hak asasi
sebagai pribadi terutama hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki.
Konsekuensi dari adanya hak, maka manusia menyadari kewajiban-kewajiban dan
tangung jawab moralnya.
2.
Dimensi Kesosialan
Manusia disamping sebagai mahluk
individual, dia juga mahluk sosial. Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial
tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada yang mampu hidup sebagai manusia tanpa
bantuan orang lain. Manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalam antar
hubungan dan antaraksi.
Adanya dimensi kesosialan pada diri
manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan
untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Kandungan dimensi
kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan. Dengan bahasa (baik bahasa verbal
maupun non-verbal, lisan maupun tulisan) individu menjalin komunikasi atau
hubungan dengan individu lain. Di samping itu individu juga menggalang
kebersamaan dengan individu lain dalam berbagai bentuk, seperti persahabatan,
keluarga, kumpulan dan organisasi (non formal dan formal).
Sifat sosialitas menjadi dasar dan
tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya atau menjadi dasar dan tujuan
setiap anak dan kelompoknya. Setiap anak pasti terlibat dalam kehidupan sosial
pada setiap waktu. Sebagai makhluk sosial, mereka saling membutuhkan, saling
membantu, dan saling melengkapi. Manusia akan selalu berinteraksi dengan
manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya, dan interaksi tersebut merupakan
wadah untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Yang dimaksud dengan
interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia
dimana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki
tingkah laku yang lain.
3. Dimensi Kesusilaan
Manusia adalah mahluk susila.
Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia yang memiliki nilai-nilai,
menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
Kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini digarisbawahi kemampuan dasar setiap individu untuk memberi penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi, sedang, ataupun rendah. Penilaian yang dibuat oleh sekelompok individu tentang sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bersama sering kali ditetapkan sebagai standar baku. Standar baku inilah yang selanjutnya dijadikan patokan untuk menetapkan boleh tidaknya sesuatu hal dilakukan oleh individu (terutama individu yang berada di dalam kelompok yang dimaksud). Inilah yang disebut moral. Individu dalam kelompok yang bersangkutan harus mengikuti ketentuan moral tersebut. Ketentuan moral itu biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hukum ilmu, dan kebiasaan.
Kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini digarisbawahi kemampuan dasar setiap individu untuk memberi penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi, sedang, ataupun rendah. Penilaian yang dibuat oleh sekelompok individu tentang sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bersama sering kali ditetapkan sebagai standar baku. Standar baku inilah yang selanjutnya dijadikan patokan untuk menetapkan boleh tidaknya sesuatu hal dilakukan oleh individu (terutama individu yang berada di dalam kelompok yang dimaksud). Inilah yang disebut moral. Individu dalam kelompok yang bersangkutan harus mengikuti ketentuan moral tersebut. Ketentuan moral itu biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hukum ilmu, dan kebiasaan.
Masalah kesusilaan maka akan selalu
berhubungan erat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai adalah sesuatu yang dijunjung
tinggi oleh manusia, mengandung makna kebaikan, keluhuran kemuliaan dan
dijadikan pedoman hidup. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk
mengambil keputusan nilai-nilai susila dan melaksanakannya. Sehingga dengan
demikian dapat dikatakan manusia, bila memiliki nilai-nilai, menghayati dan
melaksanakan nilai-nilai tersebut.
4. Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah mahluk religius.
Sejak zaman dahulu nenek moyang manusia meyakini akan adanya kekuatan supranatural
yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi
dengan kekuatan tersebut ditempuh dengan ritual agama.
Beragama merupakan kebutuhan
manusia, karena manusia adalah mahluk yang lemah memerlukan tempat bertopang
demi keselamatan hidupnya. Agama sebagai sandaran manusia. Penanaman sikap dan
kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan dikeluarga dan
dilanjutkan melalui pemberian pendidikan agama di sekolah.
Kandungan dimensi keberagaman adalah iman dan takwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintah-Nya. Keimanan dan ketakwaan ini dibahas dalam agama yang dianut oleh individu. Kitab suci agama serta tafsir yang mengiringinya memuat kaidah-kaidah keimanan dan ketakwaan tersebut.
Kandungan dimensi keberagaman adalah iman dan takwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintah-Nya. Keimanan dan ketakwaan ini dibahas dalam agama yang dianut oleh individu. Kitab suci agama serta tafsir yang mengiringinya memuat kaidah-kaidah keimanan dan ketakwaan tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia merupakan makhluk yang
sempurna. Kepribadian manusia memiliki sifat yang unik, potensial dan dinamis.
Pemenuhan kebutuhan dan pengembangan diri manusia itu tampaknya memang dapat
dilaksanakan dari, untuk dan oleh manusia itu sendiri. Pernyataan bahwa
“manusia dengan segenap perkembangan budayanya adalah dari manusia, untuk
manusia, dan oleh manusia”, mengimplikasikan bahwa manusia memang hebat,
bisa berbuat dan membuat apa saja, untuk kehidupan kemanusiaannya, sesuai dengan
kebutuhan dan kemauaannya.
Manusia juga memiliki akal untuk
menghadapi kehidupannya di dunia ini. Akal juga memerlukan pendidikan sebagai
obyek yang akan dipikirkan. Fungsi akal tercapai apabila akal itu sendiri dapat
menfungsikan, dan obyeknya itu sendiri adalah ilmu pengetahuan. Maka dari itu,
manusia pada hakikatnya adalah makhluk peadagogis, makhluk sosial, makhluk individual,
dan makhluk beragama
B. Saran
Dengan
mempelajari tentang kebutuhan dasar dan pengembangan kepiribadian manusia maka
diharapkan kita bisa lebih mudah dalam mengembangkan berbagai aspek kebutuhan
dalam kehidupan baik itu aspek sosial maupun aspek individual karena hal ini
merupakan kebutuhan yang mendasar yang harus dipenuhi.Selain itu juga dengan
mempelajari tentang kebutuhan dan pengembangan kepribadian manusia kita bisa
memprioritaskan kebutuhan yang aman harus dipenuhi terlebih dahulu disamping
kebutuhan-kebutuhan dasar lainya.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Aqqad,’Abbas Mahmud.1969.al-Insan fi al-Qur’an.Beirut: Dai.r al-Khuttab al Arab
Arifin,H.M.1983.Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta : Bumi
Aksara
IAPBE.2007.Panduan
Pengarustamaan Gender Bidang Pendidikan .Buku IV.Malang:IAPBE
Ramayulis.1994.Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: Kalam
Mulia
http://nie07independent.wordpress.com/hakikat-manusia/
http://qym7882.blogspot.com/2009/04/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar