Selasa, 07 Mei 2013

Sejarah IAID (Institut Agama Islam Darussalam)


Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan, kebangsaan dan kemasyarakatan.

Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), Fakultas Dakwah (Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam), dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam.
Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah pernah didirikan, tetapi kemudian diubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sesuai dengan tuntutan dan perkembangan yang ada. Program Diploma PGSD/PGMI juga pernah ada tetapi kemudian ditingkatkan statusnya dari Program Diploma menjadi Program Strata Satu.






BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manusia memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara ciptaan Tuhan lainnya. Dengan kekuatan dan keterbatasannya, manusia dapat berbuat apa saja atas dirinya sendiri maupun lingkungannya, sehingga mereka dapat melakukan berbagai kegiatan-kegiatan untuk mencapai kemakmuran dalam hidupnya.Dan kemakmuran itu sendiri erat kaitannya dengan keadaan dimana segala kebutuhan manusia itu telah tercukupi dan kecukupan dalam dirinya telah tercapai berarti dapat diartikan bahwa kemakmuran itu erat kaitannya dengan makna cukup dan sebuah kecukupan itu meliputi aspek material dan spritual artinya seorang manusia dikatakan telah makmur apabila ia telah merasa cukup baik spritual maupun material dengan jalan memenuhi segenap kebutuhanya.
Sejak manusia muncul dimuka bumi ini,keinginan untuk memenuhi segenap kebutuhannya telah tampak jelas mereka dengan cepat mengalami berbagai perubahan dan pengembangan dalam hidupnya.Perhatikanlah kehidupan manusia begitu banyak sekali penemuan yang berhasil dicapai manusia baik di bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi semua itu untuk membuat hidupnya menjadi lebih makmur.Pada intinya manusia tidak pernah puas ia akan melakukan berbagai upaya agar hidupnya dapat lebih makmur dan makmur lagi
Maka itulah supaya dapat mengetahui dan memahami lebih jelas lagi tentang berbagai kebutuhan dan pengembangan dimensi kepribadian manusia. Maka makalah ini membahas tentang  pengertian kebutuhan manusia dan mengklasifikasikannya kedalam berbagai ragam kebutuhan  serta berbagai pengembangan dimensi kepribadian manusia.
B.Rumusan Masalah
a)    Apa yang dimaksud dengan  kebutuhan  manusia ?
b)    Apa sajakah macam-macam  dimensi  kebutuhan manusia  itu?
c)    Bagaimana pengembangan dimensi kepribadian manusia?
C.Tujuan
a)    Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan
b)   Agar dapat lebih memahami maksud  dari Kebutuhan dan Pengembangan Dimensi  Kepribadian Manusia dan hal-hal yang terkandung  didalamnya.
D. Metode Pemecahan Masalah
Saya menggunakan metode studi perpustakaaan yaitu menggunakan buku-buku sumber  yang saya miliki kemudian  setelah itu saya ambil kesimpulan dan selain itu pula saya juga mencari informasi dari internet



















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Kebutuhan Manusia
Ketika setiap manusia menyadari dirinya secara total, maka mereka akan mengetahui bahwa diri mereka terdiri dari aspek jasmani dan ruhani. Kesadaran diri tersebut dapat dirasakan dan gejalanya dapat dimanifestasikan dalam bentuk sikap dan perbuatan fisik walaupun kesadaran itu bersifat psikis. Hal demikian menunjukkan bahwa manusia tersebut masih eksis dan masih hidup.  Kehidupan setiap manusia tidak serta merta eksis tanpa fungsi yang berguna dari berbagai organ-organ tubuh yang terdapat dalam dirinya. Disfungsi dari semua atau sebagian organ tubuh mereka akan menekan kehidupan mereka sampai mereka tidak hidup lagi.Maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan manusia adalah segala sesuatu yang naluriah dan sangat diperlukan oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya. Dan  berikut adalah macam-macam kebutuhan Manusia :
a)    Kebutuhan Hidup yang Bersifat Fisik
Setiap manusia memerlukan berbagai macam ragam kebutuhan untuk hidup. Untuk mempertahankan kehidupan mereka  diperlukan pemenuhan beberapa  kebutuhan hidup  yang diantaranya:   
1)    Kebutuhan primer
Kebutuhan Primer adalah kebutuhan yang paling utama untuk dipenuhi.Bilamana kebutuhan ini tidak terpenuhi,maka keberlangsungan kehidupan akan terganggu. Dan yang termasuk kedalam Kebutuhan primer adalah kebutuhan akan makanan,minuman,pakaian,dan perumahan serta oksigen dan asupan lain sebagainya harus selalu tersedia.Karena akan sulit bagi manusia untuk melaksanakan jati dirinya  sebelum kebutuhan primernya terpenuhi.Itulah mengapa kebutuhan primer sering disebut sebagai kebutuhan yang alamiah.




2)    Kebutuhan Sekunder
Manusia tidak hanya hidup dengan memenuhi kebutuhan primer saja tetapi manusia sebagai makhluk berbudaya dan bermasyarakat juga tidak terlepas dari kebutuhan yang lebih luas,lebih banyak dan lebih sempurna.
Seperti Manusia dapat melakukan aktivitas secara maksimal dan optimal memberikan kontribusi bagi pemenuhan kehidupannya baik secara pisik maupun secara psikis. Sebagaimana disebutkan bahwa manusia minimal memerlukan makan dan minum. Tidak  setiap makanan dan minuman tersedia secara lengkap di hadapannya. Ada bahan makanan yang harus dicari dan bahan makanan yang harus diolah. Untuk itu,manusia memerlukan keterampilan mencari dan mengolah makanan dan minuman. Ada pula lingkungan yang sangat mendukung terhadap kehidupan manusia tetapi ada juga lingkungan yang kurang mendukung kehidupannya, seperti bencana alam. Terhadap masalah yang terakhir umpamanya, manusia harus menghindar dan melakukan perbaikan sedemikian rupa. Hal demikian memerlukan kemampuan manusia untuk merekonstruksi lingkungannya agar tetap aman dan nyaman dan tetap memberikan dukungan terhadap kehidupannya.
Secara spesifik ada kebutuhan khusus yang berbeda antara laki-laki dan perempuan terkait dengan perbedaan biologik yang bersifat kodrati yaitu perbedaan organ-organ reproduksi yang harus menjadi perhatian utama.Misalnya laki-laki membuahi dan perempuan mengalami haid, hamil,melahirkan anak, dan menyusui. Tentu saja laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda yang disebut dengan kebutuhan gender praktis.
3)      Kebutuhan Tersier
Kebutuhan ini timbul setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi contoh kebutuhan tersier yang tertuju kepada barang-barang mewah seperti mobil sedan yang mewah,liburan ke luar negeri dll .Dan kebutuhan tersier ini sendiri  bertujuan  untuk meningkatkan prestise manusia dalam masyarakat.Dan batas antara kebutuhan sekunder dan tersier untuk setiap orang berbeda-beda.Perbedaan ini ditentukan kedudukan dan status ekonomi orang dalam masyarakat.

b)    Kebutuhan Hidup yang Bersifat Psikis
 Setiap manusia barangkali pernah mengalami, atau paling tidak pernah menyaksikan orang yang murung ketika ia menghadapi malapetaka yang mengancam jiwanya, atau paling tidak orang yang gagal dalam suatu usaha, seperti tidak lulus dalam suatu ujian sekolah, atau sebaliknya. Setiap manusia barangkali pernah mengalami atau menyaksikan orang yang bersorak sorai sebagai tanda kegembiraannya ketika seseorang sukses dalam suatu usaha, misalnya lulus  dalam suatu ujian sekolah.  Orang demikian menunjukkan kebebasan dirinya dari beban yang menekan. Beban yang menekan dirinya akan menyebabkan ia menjadi stres atau depresi. Hal ini tidak ubahnya seperti orang yang kekurangan nutrisi sebagai kebutuhan primernya, yaitu mengalami sakit. Namun penyakit yang diderita tidak bersifat fisik, melainkan bersifat psikis.Setiap jenis penyakit merupakan gangguan terhadap eksistensi manusia sehinnga perlu diberantas.
Aspek psikis  memerlukan perhatian, pendidikan, dan pembinaan sebagaimana mestinya sesuai dengan sifat dan karakteristiknya. Seseorang yang melupakan pendidikan dan pembinaannya, maka perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya dapat dipastikan menyalahi hakikat dan kodrat hidupnya. Aspek ini berasal dari alam spiritual, bahkan cenderung kembali ke asalnya bila ia bersih dan suci. Penyuciannya dapat berupa  konsentrasi dalam dzikir, shalat dan ibadah lainnya.
Aspek psikis mempunyai kemampuan yang diperoleh dari ‘alam mitsal (alam bentuk) dan dari dunia materi. Ia dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui cita rasa hati), di samping dari penalaran dan pengalaman empirik (penginderaan). Sebagian pengetahuan dan pengalamannya diperoleh dengan belajar atau usaha dan dengan jalan ilham  setelah terjadinya mukasyafah (keterbukaan pintu ghaib).Akibatnya ia mampu mengenal sesuatu dari dua alam, ia pun dapat mengenali dirinya dan di luar dirinya. Oleh  karenanya, ia tahu (sadar) bahwa ia tahu.  Ia siap menerima ilham, isyraq  (pencerahan) atau ilmu ladunni (ilmu yang dicampakkan oleh Tuhan ke dalam hati seseorang tanpa belajar), jika tercipta kejernihan melalui renungan batin, perjuangan jiwa dan riyadlah (latihan spiritual). Ia merupakan alat untuk mencapai pengetahuan ilhami dan mengenal Tuhan (ma’rifah). Ia  pula yang mendekat pada-Nya. Mengenal aspek ini dengan segala potensinya menjadi penting sebagai dasar pembinaan dan pengembangannya, dan seseorang yang tidak  mengenalnya berarti ia tidak akan mampu mengenal sesuatu apa pun yang bersifat spiritual.
Secara psikis seseorang memenuhi pembinaan guna pengembangan aspek psikisnya. Seperti pengembanagn berpikir, mengingat, berfantasi, menanggap, mengamati, memperhatikan dan lain sebagainya.  Kebutuhan  itu seharusnya dapat dipenuhi sedemikian rupa agar ia dapat menikmati hidup dan dalam rangka menciptakan kondisi manusia yang sehat jasmani dan ruhani. Kebutuhan  psikis dapat disebutkan sebagai berikut:
a.         Rasa Aman
Seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, memerlukan, atau yang memiliki perbedaan sosial, sama-sama memerlukan rasa aman dari berbagai ancaman yang bersifat menekan. Seseorang yang merasa tidak aman dari ancaman sesuatu  menyebabkan ia gelisah, susah bahkan sampai putus asa.Perasaan aman bisa timbul karena orang yang mempunyai pertahanan diri yang tangguh dan dapat mengatasi segala rintangan yang   bersifat menekan dirinya. Disamping itu, adanya perlindungan dari pihak lain yang bertanggungjawab atau dari pihak yang mempunyai otoritas untuk itu, seperti negara dengan segenap aparat keamanannya, atau orang tua bagi anak kecil dapat menghidarkan seseorang dari kecemasan dan rasa tidak aman.
b.         Penghargaan
Seseorang dengan ragam perbedan sosial maupun jenis kelamin sama-sama memerlukan penghargaan dari pihak lain, terutama terhadap prestasi-prestasi yang pernah dicapainya. Apresiasi dari orang lain menimbulkan dan meningkatkan rasa percaya diri pada seseorang untuk berbuat lagi, baik perbuatan yang serupa atau perbuatan lain, karena ia mendapatkan kebebasan berkreasi  dan optimisme yang tinggi.Orang yang tidak pernah mendapat penghargaan dari pihak  lain  bisa jadi menekan dirinya,  pesimis dan bahkan putus asa. Namun demikian, orang yang mendapatkan apresiasi yang terlalu tinggi dari pihak lain boleh jadi ia bisa congkak atau sombong, karena terlalu percaya diri.
c.         Aktualisasi Diri
Seseorang dengan ragam perbedan sosial maupun jenis kelamin sama-sama mempunyai kemauan, keinginan, dan cita-cita. Semua orang berharap agar kemauan, keinginan dan cita-citanya dapat dicapai. Hal demikian adalah wajar pada setiap orang apabila keinginanannya dapat dicapai secara baik akan menimbulkan rasa kepuasan dan percaya diri. Untuk mencapai keinginannnya itu seseorang selalu melakukan kegiatan yang menunjang pencapai keinginan itu. Orang yang dapat melakukan demikian adalah orang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh sehingga kebutuhannya d a dapat dipenuhi.
d.        Kebutuhan Terhadap Agama
Secara naluriah, sebagaimana disebutkan di atas, manusia dilahirkan untuk mengakui dzat yang dianggap mengatasi dirinya (The Wholy Others). Manusia hidup dan dilimpahi dengan berbagai  kesuksesan. Tetapi di pihak lain ada lagi yang mengalami banyak kendala dan hambatan dalam hidupnya. Akhirnya, akan sadar bahwa sukses yang diperoleh maupun mushibah yang menimpa dirinya bukan semata atas kehendak dan di luar kekuasaan dirinya. Semua program yang ia jalankan tidak selamanya sesuai dengan rencananya. Ketika seseorang melihat penyimpangan dari pola-pola perencanaan yang ia programkan, akan menyadarkan diri atas kekuasaan yang berada di luar dirinya. Kesadaran semacam ini yang akan menuntun seseorang untuk mempercayai dzat yang maha kuasa. Hal demikian yang menjadi dasar keimanan seseorang untuk memeluk atau mempercayai suatu agama. Ketik seseorang telah mempercayai suatu agama, maka ia   mendapatkan kepuasaan terhadap doktrin-doktrin agamanya ketika ia merasakan perlindungan agama terhadap dirinya, baik untuk kehidupan di dunia ini apalagi kehidupan di akhirat nanti. Sebagaimana Anda rasakan ketika selesai melaksanakan kewajiban agama, apabila memang dihayati secara benar, Anda merasakan suatu pengalaman keagamaan. Pengalaman agama yang dicapai dalam shalat dan do’a misalnya, telah membimbing seseorang untuk merasakan ketentraman batin bahwa dirinya berada dalam naungan kekuasaan-Nya. Hal semacam ini yang menimbulkan kerinduan yang menyebabkan seseorang untuk selalu melaksanakan ajaran agamanya secara kontinyu. Dengan demikian, semua manusia dengan berbagai strata sosial dan perbedaan sosial maupun perbedaan jenis kelamin sama-sama membutuhkan kehadiran agama untuk membimbing kehidupan mereka. Allah pun tidak memandang manusia dari aspek perbedaan tersebut, tetapi memandang dari perbedaan ketaqwaannya.



B.  Pengembangan  Kepribadian Manusia
Manusia dengan ragam perbedan sosial maupun jenis kelamin tidak sematamata hidup, tetapi juga berpenghidupan. Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hidup dan penghidupannya manusia selalu berusaha dan berupaya untuk mencari jalan agar selalu berkembang. Kehidupan duniawi tempat seseorang memulai dan melaksanakan kariernya memberikan kebebasan dan hak kepadanya untuk mewujudkan keinginannya dan memperoleh citacitanya, dengan mengembangkan hidup, kehidupan, dan semua peradabannya,  demi kelangsungan hidupnya dan kariernya.
Aspek fisik mempunyai peran yang sangat penting dalam mengantarkan seseorang mencapai tujuan yang diinginkannya. Dalam hubungannya dengan alam yang memang dipersiapkan untuk kehidupannya di dunia ini, seseorang tidak harus bersifat  fatalis dalam menghadapinya. Mengembangkan  aspek fisik dan material sudah tersurat maupun tersirat dalam pandangan hidup manusia, dan  sebagai  pemenuhan kewajiban legal formal dan kewajiban moral bagi seseorang yang meniti karier kehidupanya di dunia ini. Seseorang perlu belajar dari pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, dan mensinergikan berbagai pengalaman itu untuk mendapatkan legetimasinya dan membuat formulasinya yang tepat, efektif, dan efisien untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Tanpa akselerasi kehidupan duniawi, maka kehidupannya akan stagnan, dilampaui oleh pihak lain, karena karena ia tidak mempergunakan pikiran genius dan kreatifnya untuk mengembangkannya supaya tidak tertinggal. Dalam ketertinggalan itu boleh jadi ia menjadi sub ordinasi pihak lain, sehingga ruang geraknya menjadi terbatas. Hal ini sangat berbahaya bagi dirinya dan generasi penerusnya.  Pada umumnya perempuan dengan strata sosial lebih rendah dan anak-anak seringkali kurang mendapatkan perhatian sehingga mengalami ketertinggalan. Karena itu dalam pengembangan kepribadian perlu memperhatikan kelompok-kelompok marjinal dan subordinal agar sama-sama mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari aktivitasnya.
Di saat ini sangat dirasakan pentingnya pendidikan dan alih informasi dan teknologi dari salah satu pihak kepada pihak lain, atau sifat kerjasama yang menjadi ide sentral perubahan suatu masyarakat yang berkembang ke arah saling ketergantungan, karena diyakini tidak satu pun masyarakat atau bangsa dapat hidup mandiri memenuhi segala hajat kehidupannya tanpa bantuan pihak lain. Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri sudah menjadi keharusan supaya suatu bangsa tidak dikuasi oleh pihak lain karena sebab ketergantungannya. Suatu bangsa hanya menjadi kuat bilamana ia mempunyai ketangguhan dan ketahanan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga ia dapat berdakwah, menyebarkan informasi dan pendidikan kepada orang lain sesuai dengan pandangan hidup yang diyakini.  Fisik yang lemah, pikiran tidak kreatif dapat disebut sebagai pangkal kelemahan untuk membangun dunia yang berperadaban. Seseorang tidaklah harus menyerah secara total terhadap keadaannya dan menerima apa adanya tanpa melaksanakan usaha yang mungkin bisa ia lakukan dalam pandangan pikiran yang sehat.
Kehidupan masa kini umpamanya, ditandai dengan semakin canggihnya teknologi dan semakin lengkapnya pemenuhan kebutuhan material, namun belum cukup memberikan makna terhadap kebutuhan ruhani sepanjang seseorang belum menemukan makna kehidupan dari berbagai dimensinya dalam dirinya sendiri secara ruhani. Seseorang perlu menyelami kedalaman aspek ruhaninya supaya ia tidak mengabaikan kebutuhannya yang paling dasar dalam mendapatkan ketentraman batin dan keseimbangan dalam dirinya. Pikiran seseorang pada suatu ketika memerlukan pembebasan dari kesadaran yang terbatas menuju pada kesadaran yang tidak terbatas. Bilamana aktualisasi dan kebutuhan aspek ruhaninya tidak terpenuhi sebagai kebutuhan dasar, maka sulit diharapkan terwujudnya ketentraman dan kedamaian dalam hidup, yang berarti pula tidak ada keseimbangan antara kondisi fisik dan psikis. Berat sebelah pengembangan antara dua aspek ini menyebabkan disharmoni antara berbagai aspek kepribadiannya yang mengakibatkan terjadinya dehumanisasi, dan banyaknya penyimpangan dari kehidupan yang normal.penyembuhannya tidak dapat  dilakukan melalui terapi-terapi aspek fisik semata  tetapi memerlukan  keterlibatan aspek psikis.
Menemukan akses yang bisa dipergunakan untuk menemukan diri sendiri secara ruhani dan mencari makna kehidupannya bukan sekedar kewajaran, tetapi secara moral sudah menjadi keharusan, agar seseorang tidak terperangkap ke dalam kehidupan yang profan.
 Baik fisik maupun psikis membutuhkan pengembangan diri yang berupa pembinaan dan pendidikan agar dapat berkembang optimal dan maksimal sesuai dengan kapasitasnya. Fisik maupun psikis hanya merupakan potensi laten yang mungkin hanya disempurnakan lebih lanjut melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting dengan kebutuhan lain,  seperti halnya kita membaca sebuah  modul  dalam rangka pengembangan diri. Kemudian  Coba kita renungkan perubahan apa yang terjadi pada diri Anda setelah membaca modul tersebut..
a. Adakah wawasan atau pengetahuan Anda bertambah?
b. Adakah perubahan persepsi Anda tentang sesuatu?
c. Adakah perubahan sikap Anda dalam menghadapi sesuatu?
Aspek fisik mendapatkan pendidikan sedemikian rupa agar dapat berkembang dari lemah menjadi kuat. Pendidikan terhadap aspek ini melalui latihan yang ringan sampai yang berat tetapi kontinu, sehingga ia menjadi kuat dan sehat. Kekuatan dan kesehatan menjadi modal untuk menggapai kebutuhan yang lain sebagaimana disebut di atas. Mengasup nutrisi dan memperolehnya sebagaimana disebutkan di atas, memerlukan suatu pengetahuan yang hanya bisa didapat melalui pendidikan. Orang yang tidak terdidik pemenuhan kebutuhannya sangat bergantung kepada pihak lain, seperti anak bayi yang masih bergantung kepada orang tuanya. Namun semakin ia terdidik, maka ia semakin mahir untuk memenuhi kebutuhannya.
Manusia  tidak semata terdiri dari aspek fisik, tetapi ia juga mempunyai aspek psikis. Aspek psikis memegang peran penting dalam kehidupan manusia, sehingga untuk mengetahui wujud manusia dalam hubungannya dengan pendidikan tidak semata dilihat dari aspek materialnya (fisik), tetapi juga dari aspek spiritualnya (psikis). Aktivitasnya sebagai instrumen batin, dengan segala unsur yang melingkupinya, mempunyai pengaruh dan memegang kendali terhadap semua aspek  jasmaniahnya (fisik). Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa aspek ruhani yang paling tinggi mempunyai akses ke alam ghaib, maka dari sana ia mendapatkan informasi ghaybiyat yang biasanya ketika seseorang lebih banyak memperhatikan aspek lainnya terbengkalai .Betapa keringnya  kehidupan jika tidak disertai dengan nuansa ruhani.Hilangnya cita rasa tu berarti kenyapnya  kebahagiaan,barangkali merusakkan kecerdasan intuitif  dan lebih-lebih lagi  sanagat berbahaya dalam  bagi pembinaan moralitas karena itu melemahkan emosi  dan cita rasa batin .oleh karena itu pembangunan pendidikan aspek ruhani tidak harus  dikesam,pingkan lebih-lebih  hakikat seseorang pada dasarnya terletak  pada aspek ruhaninya yang bersifat permanen ,immortal,dan eksistensinya  sebagi bagian dari perjalanannya yang teramat panjang.
Seseorang tidak harus hanya bergelut dengan  kehidupan empirik dengan menekuni dunia  luarnya yang senantiasa berubah tetapi menguak lebih dalam  hakikat keberadaannya  hanya dengan logika linear dan dianggap sebagai peristiwa  yang berlaku secara mekanik  tetapi mungkin saja  terjadi peristiwa  yang tidak pernah disangka  menurut penalaran logis.
Muatan ekuilibrium yang terdapat dalam seluruh pengalaman hidup seseorang, baik laki-laki maupun perempuan dan perbedaan sosial mencoba memberikan nuansa pembinaan yang tidak hanya terbatas pada aspek jasmaniahnya saja– adalah prinsip-prinsip pendidikan. Strategi pendidikan seharusnya selalu mempertimbangkan keseimbangan antara berbagai aspek kepribadian, yaitu pendidikan yang berusaha dan mengupayakan perkembangan secara menyeluruh tetapi seimbang. Pendidikan yang hanya mengarah pada perkembangan suatu aspek saja, tidak lain identik dengan pengajaran. Sebagian orang memang lebih cenderung dan menginginkan pendidikannya tersegmentasi pada aspek material, tetapi tidak perlu menghalangi kesempatan yang mungkin diperoleh seseorang untuk mendapatkan pendidikan secara spiritual, bahkan diperlukan daya upaya untuk menjadikan pendidikan spiritual sebagai gerakan yang populis.
Usaha seseorang meningkatkan martabat yang lebih tinggi secara ruhani, tetapi tidak memutuskan hubungannya secara mutlak dengan dunia luarnya, ia akan memperoleh pengetahuan yang subjektif dari pengalaman ruhaninya dan pengetahuan yang objektif dari pengalaman empiriknya, sehingga ia dapat mengembangkan penguasaan dunia pada suatu sisi dan mentransendensikannya pada sisi yang lain. Pandangan dan penglihatan seseorang hendaknya diarahkan untuk mencapai makna dan fungsi menangkap sesuatu di alam material, di samping yang bersifat immaterial melalui berbagai tanda yang memenuhi alam raya, karena kemampuan penglihatannya dalam keadaan suci dan primordialnya dapat langsung menangkap visi Ilahi. Oleh karena itu, seseorang yang baik adalah aspek fisik dan psikisnya sama-sama peka.
Arah pendidikan seharusnya selalu mempertimbangkan berbagai aspek kepribadian. Dalam kondisi seperti ini pendidikan yang bersifat eksternal dan aksidental (fisik) tidak harus merupakan terminal akhir dalam suatu proses perjalanan karier pendidikan, melainkan perlu dikaitkan dengan pendidikan yang bersifat ruhani. Dalam pendidikan yang hanya berorientasi pada sisi eksternal dan formal, ketajaman visi ruhani kurang mendapatkan tempat yang wajar dan memadai, karena seseorang hanya dipandang dari segi fisik semata. Dari pendidikan seperti itu tidak mungkin dapat melahirkan nilai etika, sebagai landasan sikap dan perbuatan, dan estetika, sebagai landasan perasaan, dan nilai-nilai lainnya yang terpancar dari dimensi penghayatannya.
Bila esensi seseorang bersifat ruhani, maka pendidikan harus dihubungkan dengan hakikatnya itu. Oleh karena itu, seseorang bukan meja lilin yang dapat dibentuk dengan berbagai pengaruh dan stimulus, atau seseorang bukanlah semata makhluk pasif yang menerima bentukan dari lingkungan sebagaimana diperkirakan oleh teori tabularasa, tetapi ia mempunyai kreativitas yang memungkinkan mengubah lingkungan sesuai dengan kehendaknya, dan bahkan mencapai sesuatu yang berada di luar kehendaknya. Namun dapat diakui bahwa pembentukan suatu kebiasaan dengan suatu kegiatan mempunyai efek kumulatif, sehingga dapat mendorong terjadinya peningkatan kualitas karakter seseorang yang pengaruhnya lambat laun menjadi semakin kuat dan menyulitkan seseorang untuk melepaskan diri darinya.
Dengan pendidikan yang bisa diperoleh dari berbagai aspek kepribadian, memungkinkan seseorang menerima berbagai akibat pendidikan, sehingga kondisi kemanusiannya dapat menerima perubahan dan perkembang perkembangan sesuai dengan pengaruh yang diterimanya baik lahir maupun batin. Dengan berbagai arah, macam, dan bentuk pendidikan yang diterimanya menyebabkan kualitas kepribadiannya diidentifikasikan dan berada.
Bila seseorang dengan ragam perbedaan sosial dan perbedaan gender akibat konstruksi sosial dapat menerima pendidikan yang ditujukan kepada arah jasmani dan ruhaninya,   maka semua aspeknya dapat berkembang sesuai dengan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Pendidikan semacam ini yang  memungkinkan terciptanya kepribadian yang seimbang, dan semua pengalaman dan pengetahuannya diperoleh dari berbagai aspek kepribadiannya. Dengan demikian, bukan suatu ilusi bilamana hasil yang mungkin dicapai paling tidak berupa keseimbangan kepribadian yang tidak semata didominasi oleh salah satu aspek, tetapi merupakan sinergi dari berbagai aspek kepribadian. Betapa sangat dipentingkan dalam tujuan pendidikan adalah seseorang yang tidak hanya trampil dan pintar, tetapi juga bersikap mulia sebagai hasil keseimbangan antara aspek fisik, psikisnya. Seseorang yang mampu berpikir tentang sesuatu dan berbuat sesuatu haruslah mempergunakannya untuk kebaikan dirinya, masyarakatnya, dan bangsanya menuju kehidupan yang lebih mulia dan bermartaba at.  Hasil lebih jauh adalah kepuasannya dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh  sehingga berujung pada kenikmatan dan kebahagiaan. Ingat,  setiap yang nikmat itu dicintai karena adanya kecenderungan seseorang untuk mendapatkannya.
C.Dimensi-Dimensi Manusia
Seseorang (individu manusia) yang sejak kelahirannya (dari penciptaannya) dibekali dengan hakikat manusia untuk pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia dilengkapi dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri individu itu. Dimensi-dimensi itu adalah sebagai berikut:
1.         Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk keindividualan dimaksudkan sebagai orang yang utuh, yang terdiri dari kesatuan fisik dan psikis. Kandungan dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Di sini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potensi, baik potensi fisik maupun mental-psikologis, seperti kemampuan intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Potensi ini dapat berbeda-beda antar individu. Ada individu yang berpotensi sangat tinggi, tinggi, sedang, kurang dan kurang sekali.
Keberadaan manusia sebagai individual bersifat unik artinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap manusia sama mempunyai mata, telinga, kaki dan anggota tubuh lainnya, namun tidak ada yang sama persis bentuknya, karena setiap orang kelak  akan diminta pertangungjawaban atas sikap perilakunya. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia, ini mencakup pengertian yang sangat luas, antaranya  kesadaran akan diri antara realitas, self respect, self narcisme, egoisme dll. Manusia sebagai individu memiliki hak sebagai kodrat alami atau anugerah Tuhan kepadanya. Hak asasi sebagai pribadi terutama hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki. Konsekuensi dari adanya hak, maka manusia menyadari kewajiban-kewajiban dan tangung jawab moralnya.



2.         Dimensi Kesosialan
Manusia disamping sebagai mahluk individual, dia juga mahluk sosial. Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada yang mampu hidup sebagai manusia tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalam antar hubungan dan antaraksi.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Kandungan dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan. Dengan bahasa (baik bahasa verbal maupun non-verbal, lisan maupun tulisan) individu menjalin komunikasi atau hubungan dengan individu lain. Di samping itu individu juga menggalang kebersamaan dengan individu lain dalam berbagai bentuk, seperti persahabatan, keluarga, kumpulan dan organisasi (non formal dan formal).
Sifat sosialitas menjadi dasar dan tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya atau menjadi dasar dan tujuan setiap anak dan kelompoknya. Setiap anak pasti terlibat dalam kehidupan sosial pada setiap waktu. Sebagai makhluk sosial, mereka saling membutuhkan, saling membantu, dan saling melengkapi. Manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya, dan interaksi tersebut merupakan wadah untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Yang dimaksud dengan interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki tingkah laku yang lain.
   3.   Dimensi Kesusilaan
Manusia adalah mahluk susila. Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
Kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini digarisbawahi kemampuan dasar setiap individu untuk memberi penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi, sedang, ataupun rendah. Penilaian yang dibuat oleh sekelompok individu tentang sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bersama sering kali ditetapkan sebagai standar baku. Standar baku inilah yang selanjutnya dijadikan patokan untuk menetapkan boleh tidaknya sesuatu hal dilakukan oleh individu (terutama individu yang berada di dalam kelompok yang dimaksud). Inilah yang disebut moral. Individu dalam kelompok yang bersangkutan harus mengikuti ketentuan moral tersebut. Ketentuan moral itu biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hukum ilmu, dan kebiasaan.
Masalah kesusilaan maka akan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, mengandung makna kebaikan, keluhuran kemuliaan dan dijadikan pedoman hidup. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan nilai-nilai susila dan melaksanakannya. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan manusia, bila memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut.
4.  Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah mahluk religius. Sejak zaman dahulu nenek moyang manusia meyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan kekuatan tersebut ditempuh dengan ritual agama.
Beragama merupakan kebutuhan manusia, karena manusia adalah mahluk yang lemah memerlukan tempat bertopang demi keselamatan hidupnya. Agama sebagai sandaran manusia. Penanaman sikap dan kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan dikeluarga dan dilanjutkan melalui pemberian pendidikan agama di sekolah.
Kandungan dimensi keberagaman adalah iman dan takwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintah-Nya. Keimanan dan ketakwaan ini dibahas dalam agama yang dianut oleh individu. Kitab suci agama serta tafsir yang mengiringinya memuat kaidah-kaidah keimanan dan ketakwaan tersebut
.







BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Manusia merupakan makhluk yang sempurna. Kepribadian manusia memiliki sifat yang unik, potensial dan dinamis. Pemenuhan kebutuhan dan pengembangan diri manusia itu tampaknya memang dapat dilaksanakan dari, untuk dan oleh manusia itu sendiri. Pernyataan bahwa “manusia dengan segenap perkembangan budayanya adalah dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia”,  mengimplikasikan bahwa manusia memang hebat, bisa berbuat dan membuat apa saja, untuk kehidupan kemanusiaannya, sesuai dengan kebutuhan dan kemauaannya.
Manusia juga memiliki akal untuk menghadapi kehidupannya di dunia ini. Akal juga memerlukan pendidikan sebagai obyek yang akan dipikirkan. Fungsi akal tercapai apabila akal itu sendiri dapat menfungsikan, dan obyeknya itu sendiri adalah ilmu pengetahuan. Maka dari itu, manusia pada hakikatnya adalah makhluk peadagogis, makhluk sosial, makhluk individual, dan makhluk beragama
B.       Saran
Dengan mempelajari tentang kebutuhan dasar dan pengembangan kepiribadian manusia maka diharapkan kita bisa lebih mudah dalam mengembangkan berbagai aspek kebutuhan dalam kehidupan baik itu aspek sosial maupun aspek individual karena hal ini merupakan kebutuhan yang mendasar yang harus dipenuhi.Selain itu juga dengan mempelajari tentang kebutuhan dan pengembangan kepribadian manusia kita bisa memprioritaskan kebutuhan yang aman harus dipenuhi terlebih dahulu disamping kebutuhan-kebutuhan dasar lainya.







DAFTAR PUSTAKA
Al-Aqqad,’Abbas Mahmud.1969.al-Insan fi al-Qur’an.Beirut: Dai.r al-Khuttab al Arab
Arifin,H.M.1983.Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta : Bumi Aksara
IAPBE.2007.Panduan Pengarustamaan Gender Bidang Pendidikan .Buku IV.Malang:IAPBE
Ramayulis.1994.Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: Kalam Mulia
http://nie07independent.wordpress.com/hakikat-manusia/
http://qym7882.blogspot.com/2009/04/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html